Seraya menegaskan kepada teman-teman yang mungkin cemas kepada sholawat bahwa pertama, shalawat itu tidak mentuhankan Muhammad, kedua, Shalawat juga tidak menganggap Muhammad sebagai anak tuhan. Kita mempelajari bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah adanya segi tiga cinta. Di titik atas ada Allah, di titik kanan ada Muhammad Saw dan di titik kiri ada kaum muslimin.
Masing-masing titik itu disambungkan oleh garis sedimikian rupa sehingga terbentuk segi tiga. Dan segi tiga itu akan bermuatan cinta, sehingga bisa disebut segi tiga cinta, kalau dalam garis-garis tersebut mengalir arus cinta antara penghuni titik-titiknya.
Sekarang kita lihat. Pada garis pertama, antara Allah dengan Rasulullah. Allah sangat mencintai Muhammad Saw dan sebaliknya Muhammad pun sangat mencintai Allah sehingga beres aliran cintanya. Kemudian pada garis kedua antara Allah dengan kaum muslimin, Allah sangat mencintai kita tetapi kita kadang ogah-ogahan kepada Allah. Sehingga Allah sering mengeluh, ” Lho engkau ini bagaimana wahai jin dan manusia, Aku yang menciptakan engkau, tapi engkau menyembah yang selain aku. Aku yang memberimu rizki tapi kamu berterima kasih kepada yang selain aku.” Jadi pada garis ini kurang beres aliran cintanya, alias kurang timbal balik.
Lantas garis yang ketiga, antara Muhammad dengan kita. Muhammad sangat mencintai kita. Muhammad melakukan tirakat untuk kita dan agar do’anya tentang kita dikabulkan oleh Allah Muhammad menempuh puasa sedemikian rupa supaya allah pekewuh kepada Muhammad terutama yang menyangkut nasib kita. Mengapa demikian? Kekasih muhammad itu selain Allah pada pihak pertama, adalah sahabat. Yakni mereka yang hidup sezaman dan pernah bertemu dengan Rasulullah semasa hidupnya. Sedangkan yang tidak bernasib seperti sahabat alias yang hidup sesudah Rasulullah wafat itu bernama ummat Islam.
Para sahabatnya sudah jelas nasibnya. Mereka hidup bersama-sama dengan Rasulullah berjuang dan loro lopo, Rasulullah sangat mencintai mereka dan selalu mendoakan mereka. Lantas bagaimana dengan yang ummat Islam ini yang hidup setelah ditinggal wafat Rasulullah. Siapa yang mendoakan mereka? Nah Rasulullah itu tidak tega untuk meninggal dunia tanpa meninggalkan atau mewariskan mekanisme kabulnya doa atas nasib kita semua.
Jadi bagaimana Allah akan mengabulkan doa kita kalau kita tidak melangsungkan lalu lintas segi tiga cinta itu. Dengan begitu mencintai Muhammad yang misalnya kita ungkapakan lewat sholawat adalah penyikapan yang logis, adil dan sewajarnya saja terhadap kasunyatan perhubungan cinta antara Allah, Muhammad dan kita. Demikianlah doa kita akan sampai arusnya kepada Allah kalau melewati Muhammad. Sebab bagaimana mungkin Allah mengabulkan do’a kita kalau kepada kekasih-Nya kita bersikap acuh tak acuh dan cuek. Allah ini sangat pencemburu dan romantis. Allah menghendaki keindahan pergaulan antara diri-Nya, Kekasih-Nya dan kita.
Sholawat Membukakan Ilmu
Sekarang kita memasuki sisi lain dari shalawat. Selain sebagai jalan untuk mengintensifkan cinta kita kepada Rasulullah, shalawat juga memberi peluang terbukanya pintu-pintu ilmu. Lihatlah misalnya sholawat Nurul Musthofa.
Musthofa itu artinya terpilih. Nurul Musthofa itu berarti cahaya yang terpilih. Dan inilah mahluk Allah yang pertama. Mahluk Allah yang pertama ini adalah seberkas cahaya yang dinamai Nur Muhammad. Allah sangat mencintai mahluk pertama ini sedemikian rupa sehingga Allah mempunyai alasan untuk menciptakan alam semesta beserta isinya ini termasuk kita semua. Allah mengatakan dalam hadits qudsinya, lau laka ya muhammad ma kholaqtu al aflaka (jika tidak karena engkau Muhammad _maksudnya cahaya tadi- maka aku tidak akan ciptakan apapun yang lain. Kelak Cahaya ini akan diwujudkan oleh Allah secara biologis, sosiologis dan historis menjadi Muhammad Saw. Artinya diwujudkan sosoknya, sepak terjangnya dan sejarah hidupnya. Jadi ada beda antara muhammad jasmaniah dan muhammad ruhaniah. Dari shalawat Nurul Mushtofa, selain kita memperoleh keindahan dan kenikmatan bercinta dengan Muhammad, juga kita peroleh ilmu pengetahuan. Ilmu tentang apa? Ialah ilmu tentang sejarah
penciptaan alam semesta. Yang barangkali ilmu pengetahuan moderen sekarang ini belum mencapai dan mengatakannya. Bahwa mahluk pertama yang dicipta oleh Allah bukan siapa-siapa melainkan Nur-muhammad tadi.
No comments:
Post a Comment